The Story Behind My IELTS Test

Mungkin tidak banyak yang tahu tentang English Language Testing System (IELTS), sama halnya dengan saat saya dihadapkan pada sebuah keputusan sulit untuk menjatuhkan pilihan antara mengikuti IELTS atau TOEFL IBT 2 bulan silam.

IELTS adalah sebuah ujian yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1989 untuk membantu sekolah-sekolah dan universitas untuk mengukur kemampuan bahasa inggris seseorang yang akan melakukan studi ataupun latihan bahasa inggris.

Di Indonesia sendiri tipe ujian ini belum sepopuler pesaingnya, TOEFL test, yang sudah lebih dahulu dikenal masyarakat luas dan digunakan sebagai standar umum untuk memasuki beberapa perguruan tinggi baik di dalam maupun luar negeri. Anda mungkin berfikiran sama dengan apa yang terlintas dalam benak saya saat pertama kali saya memasuki kantor I/A/L/F, sebuah lembaga penyelenggara IELTS terbesar di Indonesia, yang terletak berseberangan dengan kedutaan besar Australia di jalan Rasuna Said, Jakarta. Pertanyaan pertama yang ada saat itu adalah dimana perbedaan IELTS dengan TOEFL test? Dan pertanyaan kedua yang muncul saat itu dan sering ditanyakan orang adalah pertanyaan yang sangat sederhana namun membutuhkan jawaban yang cukup subjektif “Lebih mudah mana IELTS dengan TOEFL?”. Dua buah pertanyaan umum yang insyaAllah akan saya bahas dalam artikel berikutnya.

Layaknya sebuah skripsi yang diawali dengan background penelitian maka saya pun memiliki latar belakang kuat saat memutuskan untuk menulis artikel ini. Ini adalah tulisan yang saya buat agar Anda tidak mengalami hal yang sama dengan apa yang saya dan sahabat-sahabat saya rasakan saat kami bersama-sama berjuang dalam “camp konsentrasi” IELTS preparation dalam atmosfir kedisiplinan yang cukup membuat kami rela mematikan TV dalam 2 minggu, melewati pertandingan-pertandingan besar Liga Champion, menunda kepergian kami dengan teman-teman sekelas untuk bersenang-senang dan rela bangun lebih awal agar sampai di tempat kursus tepat waktu. Prihatin? Tentu, mengingat kami bersama-sama memperjuangkan selembar kertas yang harganya tidak pernah bisa diukur dengan uang sebesar apapun. Selembar kertas bertuliskan “INTERNATIONAL ENGLISH LANGUAGE TESTING SYSTEM” yang terhias dengan nilai tes yang kelak menjadi pembuka pintu agar kami bisa memasuki gerbang perguruan tinggi di luar negeri yang telah kami impikan.

Kenapa saya mengikuti IELTS?

Sejak Februari 2010, saya mendapatkan email dari professor di salah satu perguruan tinggi di Australia bahwa proposal penelitian saya ternyata lolos seleksi. Lucu mengingat orang pertama yang tau bahwa saya lulus bukan hanya diri saya sendiri melainkan sahabat SMA saya yang sedang meminjam komputer di rumah untuk bermain Facebook. “Med, ada email tuh”. Melihat notifikasi digmail bahwa email itu datang dari universitas yang saya tuju, saya langsung bergegas mengambil alih komputer tersebut dan jantung saya langsung berdetak dengan ritme tidak menentu. It’s a yes or a no from the professor?, pikir saya. Saya sangat bersyukur karena ternyata pembimbing saya menyambut baik proposal penelitian yang saya kirimkan meski saya sadar bahwa proposal tersebut masih sangat jauh dari sempurna, dan hal itu membuat penantian saya selama 4 bulan terjawab sudah. “Congratulation, and Welcome Abroad”, satu kalimat yang singkat namun sangat mengena tertulis dalam email yang dikirimkan, dan rasanya saya ingin langsung bersujud untuk menyatakan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberi saya kebahagiaan yang luar biasa. Namun entah mengapa raut muka ini tidak menampakkan kebahagiaan yang layaknya tergambar dalam orang-orang yang berhasil meraih apa yang mereka inginkan dan bibir saya hanya terpaku pada satu kata yang terus mengalir ,“Alhamdulillah”.

Saat sahabat saya akan pamit untuk pulang, ia mengatakan hal yang masih teringat persis hingga sekarang “Med, kok muka loe ga kelihatan bahagia sih”. “Eh?” saya terperangah, setengah bangun dari sadar, memastikan apakah saya benar2 tampak konyol saat itu, dan kemudian menjawab “ Masa sih?gw bahagia kok”. “ Ya tapi muka loe kaya orang yang ga bahagia” lanjutnya. Baiklah, Ia benar. Saya memang tidak bisa menutupi bahwa rasa bahagia saya terpaut jauh dengan rasa khawatir yang memenuhi pikiran saya saat itu. Ini bukan hanya menyangkut masalah memasuki universitas baru pikir saya ,tidak, tidak sesederhana itu, tetapi lebih kepada amanat yang akan saya pikul dan tanggung jawab kepada orang-orang yang telah berharap besar agar saya bisa berhasil melanjutkan sekolah, orang-orang hebat seperti ayah-ibu, professor, teman-teman, serta banyak pihak lain yang telah membantu, dan saya sadar benar bahwa tidak ada kesuksesan yang bisa dicapai dengan mudah. Jika proses saat saya diterima Alhamdulillah tidak mengalami banyak kendala, pastilah ada perjalanan besar yang belum saya tempuh saat itu, dan rasa khawatir saya saat itu terbukti benar, perjuangan sebenarnya belum dimulai, dan inilah masalah terberat yang saya hadapi saat akan mendaftar universitas : “Lulus dalam ujian standarisasi Bahasa Inggris yang disyaratkan universitas yang saya tuju.”

Mungkin beberapa orang yang telah mengenal saya akan tertawa dan berkata, “your English is already great, why bother?”… “why? because I know that I’m not as good as they thought” pikir saya. Ya saya khawatir karena saya tumbuh dalam paradigma yang salah selama ini, I thought I was good enough in English but I was totally wrong.”. Sedikit flash back, saat saya duduk dibangku SMP guru saya memberi saya amanah untuk menjadi ketua English Corner, sebuah klub bahasa inggris yang aktif menyelenggarakan program-program untuk meningkatkan kecintaan pelajar SMP akan bahasa yang telah menjadi bahasa pengantar di dunia saat ini. Apakah saya diangkat karena bahasa inggris saya cukup baik? Mungkin itu pertimbangan guru-guru saya saat itu. Tapi saya tahu benar bahwa saya hanya mewarisi logat inggris sederhana karena beruntung keluarga saya sempat hijrah selama 6 tahun di Jerman, namun diluar itu kemampuan grammatical dan reading saya sungguh payah. Saya tidak sadar akan hal itu, tidak sampai saya mengikuti persiapan IELTS selama 2 minggu di I/A/L/F dan guru-guru yang sangat ahli dalam mengajar bahasa terjun langsung untuk memperbaiki kekurangan kami. Saya terus tumbuh dengan pemikiran menyesatkan bahwa “Your English is Fine, Medria”. Dari waktu ke waktu, hari ke hari, dah bahkan saat saya SMA hal ini terus melekat dalam benak saya dan membuat saya mewarisi sifat terlalu cepat puas dengan kemampuan bahasa Inggris alakadarnya yang ternyata masih jauh dibawah standar bahasa Inggris yang baik.

Universitas yang saya tuju ternyata mematok standar yang cukup tinggi dalam pertimbangan kualifikasi bahasa Inggris, untuk TOEFL IBT paper based score minimal agar dapat diterima dalam kampus itu adalah 577 atau IELTS dengan nilai overall 6.5, tentu saja dengan each band no lower than 6.Standar yang menurut saya cukup berat bagi negara-negara yang tidak menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar dalam keseharian mereka dan karena saya akan menempuh pendidikan di Australia maka meski mereka menerima English requirement dalam berbagai bentuk tipe ujian seperti TOEFL or IELTS tapi kantor imigrasi Australia lebih menyarankan agar saya mengikuti IELTS. “It is more common in Australia”, they said. Ya, IELTS memang lekat dengan nuansa Inggris dan Australia, sedangkan TOEFL lebih cenderung digunakan untuk universitas-universitas di Amerika Serikat. Maka disinilah perjuang saya yang sebenarnya dimulai. Kendala saya saat itu adalah sempitnya waktu persiapan yang saya miliki. Saya bahkan berjuang dengan modal dari nol karena saya bahkan tidak pernah tau apa itu IELTS. Pada akhir bulan Mei saya dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa berkas IELTS ke kantor Administrasi Universitas sudah harus diserahkan. Itu artinya hanya tersisa waktu 2 bulan untuk persiapan, dan bagaimana jika dalam 2 bulan itu saya gagal mencapai nilai IELTS yang mereka targetkan?Beberapa universitas di Australia menawarkan package offer jika Anda gagal memenuhi persyaratan tersebut, tapi beberapa universitas lain terkadang tidak segan memberi peraturan yang lebih strict dengan membatalkan tawaran mereka dan menyarankan agar para pendaftar meng-apply kembali tahun depan jika nilai IELTSnya sudah memenuhi. Yang pasti kedua pilihan tersebut sama-sama menyita waktu bahkan mental. Jadi sudah jelas bahwa lolos IELTS mau tidak mau adalah syarat mutlak yang harus saya tempuh agar bisa melanjutkan sekolah. It’s a battle against time.

Salah satu langkah saja bisa berakibat fatal saat itu. Sebuah perjuangan yang tidak hanya membutuhkan focus yang luar biasa agar bisa lulus, tetapi juga kedisiplinan tinggi dan faktor penentu seperti yang digunakan samurai Jepang yang akan berangkat ke medan perang,sebuah tulisan kanji yang tergantung dalam leher mereka yang berarti : keberuntungan. Semoga cerita ini nantinya dapat menginspirasi Anda agar tidak mengambil ujian ini secara mendadak seperti yang saya lakukan, karena hal itu sangat beresiko dan bahkan bisa berakibat fatal untuk proses administrasi berkas saat Anda berencana akan melamar ke sekolah yang membutuhkan syarat kemampuan bahasa inggris tinggi,

So if you have time, even if you’re not enrolled in a university yet, it is better to know your IELTS score as soon as possible,

lebih baik Anda tahu berapa nilai Anda sekarang daripada Anda tahu pada saat waktu yang anda miliki tidak lagi tersedia :D . Take it as soon as possible and don’t let it  impede your success…

Advertisement
  1. Wah thanks bnget nih kak medria postingan tentang IELTS dan TOEFL nya. Gw masih bingung mana yang mw gw ambil. Klo dari Kampus2 syaratnya TOEFL tapi skarang rata – rata kLo mau ikutan beasiswa luar negeri dan kerja d Perusahaan asing juga minta IELTS. Padahal harga “test”nya sama2 “dahsyat”. Setidaknya jadi punya pertimbangan lebih tentang dua test tadi.

    • Hi, Tito makasih dah mampir ke blog 21Highresolut1on. :D .
      iya maaf saya belum sempet bikin postingan tentang detail IELTS, insyaAllah pengen bikin secepatnya kalo ada waktu luang.
      Intinya IELTS itu terdiri dari 4 section, listening (40 soal), reading (40 soal), writing (2 task) dan speaking.
      Oh ya sebelumnya dah pernah ikut Toefl atau IELTS prediction belum?
      Kalau sudah, score dalam prediction test bs dijadikan pertimbangan sebelum mengikuti ujian International TOEFL dan IELTS yang sesungguhnya mengingat
      biaya ujian kedua test tersebut cukup mahal (bagi mahasiswa seperti saya ho2) v^^.
      Sukses ya, if you have any question please do not hesitate to ask me :D !

      cheers,
      Medria Hardhienata

    • Elysabeth
    • August 15th, 2010

    Mbak Medria yang cantik.. thaks for the story and I”ve got lots of Information..
    Mbak.. kalo boleh tahu.. mbak akan kul di Uni mana yah.. I thought you already there?
    trus.. kalo bleh tahu lagi mbak.. waktu IELTS prep bayar berapa?, worth it ga dibanding self directed learning aja..

    Mbak selamat yah dapet scholarship juga.. dari Uni nya or dr mana yah? thank you so much for viewing my letter…

    • Hi Mba lysa,
      punten baru bales, kemarin2 lg ngurus pendaftaran kampus jd belum buka blog lagi,
      sama2 makasih jg dah mampir kesini, saya kuliah di UNSW@ADFA, Canberra. IELTS prep di IALF harganya sekitar 3.45 juta. worth it banget dan sangat bermanfaat
      karena gurunya orang native dan cara pengajarannya bagus sekali.

      Terimakasih ya Mba lysa, alhamdulillah, kebetulan dapet dari univ UNSW@ADFAnya ada program research training :) . your welcome.

      CHeers,
      Medria Hardhienata

    • Eddie
    • November 11th, 2010

    alo mba medria, saya rencananya juga mau ikut IELTS buat ngambil visa working holiday di ausie, minimal nilainya 4.5, susah ga yah mba untuk dpt nilai segitu??, kalo mba ada YM atau FB add saya ya di voltus_99999@yahoo.com soalnya saya mau nanya2 ama mba medria, thx… GBU

    • Hallo Mas Eddie, salam kenal :D

      Terimakasih sudah mampir ke blog ini, punten jg baru balas karena minggu2 kemarin sempat tidak aktif di blog karena mengerjakan tugas kampus.
      Mas Eddie sudah pernah mengambil prediction TOEFL atau IELTS? Kalau belum bisa dicoba untuk ikut prediction dulu untuk mengetahui sejauh mana
      kemampuan kita. Kalau dulu sebelumnya sudah pernah mengambil Toefl prediction rata2 teman2 saya yang toefl predictionnya 500 mendapat score IELTS sekitar
      5-6. Sehingga kalau mas eddie sudah pernah mengambil prediksi dan toeflnya mencapai 500, mudah2an IELTS 4.5 tidak sulit. :D
      Untuk mengambil Toefl institusional (sebagai prediksi awal) Mas Eddie bisa daftar ke LBI FIB Universitas Indonesia atau buka link http://www.lbifib.ui.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=38:toefl-tests-at-lbi-fib-ui&catid=1:category-latest-news.Kalau untuk IELTS prediction bisa ditanyakan ke IALF Jakarta. :)

      Semoga membantu.

      Salam,
      Medria

    • rozaq
    • February 2nd, 2011

    Saya udh ikut 3x msh 6.0 jg,hehe..pdhl udh ikut prep. di IALF. Dapet conditional letter dari ANU diterima tp tinggal IELTSnya nih msh kurang..:(

    • Hi mas rozaq, maaf baru sempat membalas. Wah selamat sudah diterima ya di ANU :D . Memang kalau IELTS tidak bisa langsung naik cepat, rata2 butuh waktu 3 bulan untuk naik, karena kemampuan seperti berbicara misalnya memang membutuhkan latihan yang cukup lama hingga terbiasa. Tapi kalau conditional nanti bisa ikut kelas tambahan bahasa Inggris kan ya di ANU?semoga lancar ya prosesnya. Dont give up, keep running! :D

  2. salam kenal mba Med..
    terima kasih sudah berbagi informasi. Mau tanya, kl ujian speaking-nya seperti apa ya?
    terima kasih atas infonya

    • Salam kenal Mas Komar,

      Maaf saya baru sempat balas, sama2 semoga info yang sederhana di blog ini bisa bermanfaat.
      Ujian speakingnya terdiri atas 3 sesi. Sesi pertama adalah tanya jawab tentang topik2 umum seperti pekerjaan, hobby dan keluarga.
      Sedangkan sesi kedua umumnya diberi sebuah topik khusus, kemudian diberi waktu 1 menit untuk prepare dan 2 menit untuk berbicara tentang topik yang diberikan.
      Sesi terakhir adalah diskusi tentang topik yang dibicarakan di sesi kedua.

      Untuk lebih lengkapnya, contoh2 speaking test dapat dilihat di : http://www.ielts-blog.com/ielts-preparation-tips/speaking-tips/ielts-speaking-test-questions/

      Semoga bermanfaat :D

  3. assalamu’alaykum, tok tok

    senangnya bisa menemukan blog Medria ^_^
    mudah2an kita bisa segera bertemu, amin, insyaAllah

    sukses menuju sidang!!

    • wa’alaikumsalam wr.wb,

      Hi Mba, wah makasih sudah mampir, mohon maaf ini blognya masih amatir hehe…
      Amien makasih ya mba. semoga bisa segera mubeng2 di kota Canberra v^^.

      Aku tunggu kedatanganya =9! semoga dimudahkan.

    • indahria
    • May 17th, 2011

    halo mbak..saya mau tanya dong gimana caranya memfokuskan diri ketika reading dan listenig.. saya membutuhkan nilai ielts 6 untuk sekolah ke belanda.tp band score saya baru 5, ketika tes yang kedua kalinya malahan drop :( thanks b4

  4. Assalamu’alaikum…hemm
    salam kenal Medria. gregetan jadinya untuk segera ke australia. tapi teringatnya di cambera tu biaya hidup lebih mahal ya…? tlg info dong, sedang hunting universitas yg tangguh di cambera untuk bidang S2 Informatika….

    trus, terakhir.. Medria dapat berapa nilai IELTS nya…? hahah *PENASARAN euy*

    • Wa’alaikumsalam wr.wb.,

      Hi Ismail :) ! Semoga lancar utk studinya ke Australia. Di Canberra biaya hidup memang cenderung lebih tinggi. Meski demikian, lembaga pemberi beasiswa umumnya sudah mempertimbangkan hal ini (terutama jika pemberi beasiswa adalah pihak universitas di Canberra, tentu sudah disesuaikan dengan standar hidup di kota tersebut :) , jadi mudah2an tidak menjadi kendala ) Di Canberra, universitas yang memiliki bidang Informatika setahu saya ada 3: UNSW@ADFA (sekolah tempat saya belajar saat ini) memiliki School of Engineering and Information Technology (SEIT) (http://www.cs.adfa.edu.au/research/index.php) , Australian National University (ANU) memiliki program Master of Computing (http://studyat.anu.edu.au/programs/7705XMCOMP;overview.html) , dan juga di University of Canberra terdapat program Master of Information Technology (http://www.canberra.edu.au/courses-units/m-coursework/information-sciences/846aa).

      wah, IELTS saya dulu tidak terlalu tinggi ^^v sedang-sedang saja tapi alhamdulillah cukup untuk syarat masuk universitas saat itu :)

      Semoga informasi ini bisa bermanfaat ya.

      Salam,

      Medria

    • frans
    • February 23rd, 2012

    Aslm. Blog yang bagus Mbak. Kebetulan saya sedang dalam masa-masa pencarian beasiswa Mbak, sama spt masa Mbak sebelumnya. Saya rencana mau berjuang “ng-laskar pelangi” ke British. Mau tanya sharing2 gmn kok bisa proposal riset Mbak sampai ke Profesor ‘abroad’ sana? Mungkin ada tips juga gmn caranya stalker alamat Prof2 di luar sana, dan yaaa… tips proposalnya juga tentunya.

    Salam,

    Moslem brotherhood

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.