Setiap orang tentu memiliki pandangan yang berbeda tentang definisi ‘mudah’ untuk dirinya. Maka jika Anda bertanya ujian mana yang lebih mudah antara TOEFL dan IELTS, jawaban yang Anda dapatkan kemungkinan besar akan mengarah kepada subjektifitas seseorang. Saya mungkin akan menghabiskan waktu cukup lama untuk membaca artikel-artikel bahasa Inggris, membaca artikel tersebut sama susahnya bagi saya saat harus memahami rubrik politik dalam koran ibukota. Rumit dan kadang sulit dicari inti permasalahannya. Sebaliknya jika tiba waktu untuk menulis dalam bahasa international ini saya biasanya akan selesai 15 menit lebih cepat dari waktu yang ditentukan oleh penguji. Namun berbeda dengan salah satu kawan saya, baginya membaca artikel bahasa Inggris dalam ujian bagaikan membaca sebuah cerpen dalam majalah dengan 80 persen jawaban tepat sesuai wacana. Namun, jika tiba waktu untuk writing test, ia lebih memilih agar sang penguji menumpahkan kopi di depan lembar jawabannya agar kesalahan yang ia tuliskan tersamarkan seperti hilangnya gula dalam secangkir kopi yang teraduk.he2. Nah bagaimana dengan Anda? Sebelum mengambil salah satu ujian yang menjadi standar penilaian bahasa Inggris ini sebaiknya Anda kenali dulu dimana kelebihan dan kekurangan Anda. Hal ini bisa dilakukan dengan mengikuti beberapa prediction test atau preparation course untuk memprediksi nilai Anda. Saran saya, jika anda bukan seorang native speaker, jangan langsung mengambil ujian TOEFL international atau IELTS sebelum Anda mengikuti prediction test. Selain harga ujian yang hampir menyamai harga ponsel, bisa-bisa hal ini menjadi tindakan bunuh diri yang kesekian kali setelah gol bunuh diri pertama dalam Piala Dunia saat pemain Swiss, Ernst Lotscher di tahun 1938 melawan Jerman Barat He2.
Bagi Anda yang ingin mengikuti tes international TOELF atau IELTS berikut ini adalah alamat official test centre TOEFL dan IELTS di Jakarta, semoga bermanfaat
.
TOEFL
Indonesian International Education Foundation (IIEF)
Menara Imperium, 28th Floor, Suite B
Metropolitan Kuningan Superblok, Kav. 1
Jl. H. R. Rasuna Said
Jakarta 12980
E-mail: iief@indo.net.id
Tel: +62-21-831-7330
Website :http:// www.iie.org/iie/iief/
IELTS
Jl Rasuna Said Kav X-6 No. 8
Jakarta 12940
Tel. (62-21) 521-3350
Fax (62-21) 521-3349
ialfjkt@ialf.edu
Berikut ini terdapat beberapa link beasiswa untuk tahun 2010 yang saya dapat dari milist ppia-canberra, semoga bermanfaat
…
Beasiswa ADS untuk periode 2010 (pendaftaran 7 juni-27 Agustus 2010) , silakan kunjungi http://www.adsindonesia.or.id/ atau download brosurnya di http://adsindonesia.or.id/files/ADSbrochure.pdf
http://www.setneg.go.id/index.php?Itemid=93&id=46&option=com_content&task=blogcategory
http://infobeasiswa.org/beasiswa_bank_dunia_2009-2010.html
Gut luck and semangat! Yosh! \(^^)9
Cheers,
Medria Hardhienata >:)
23 years already. It’s been over 2 decades and I try to figure out who I’ve finally become. All the dreams, happiness, and sadness bound as I’m keep searching for my identity. However within all the journey of my life, I realize that I have to thank Allah more for all His gift. No matter what God turning me into, whenever He lead me to, He always cover me with all those remarkable people who stand beside me. Family, friends. More than any words can ever describe.
Whenever you feel bad or bored with your daily routines, just call them and ask them to hang out with you! Hanging out with them is more than a glass of cool water can awake you in the morning,he2, you can feel brand new by sharing lots of ideas, learn a lot from their unique characteristic and the most important thing is that you can always be your self. Accepting all your weaknesses, no matter how far you’re stuck in troubles, they are the one who can keep you stand just the way you are.
As Erma Bombeck said “ The family. We were a strange little band of characters trudging through life sharing diseases and toothpaste, coveting one another’s desserts, hiding shampoo, borrowing money, locking each other out of our rooms, inflicting pain and kissing to heal it in the same instant, loving, laughing, defending, and trying to figure out the common thread that bound us all together. “
Another said that “You don’t choose your family. They are God’s gift to you, as you are to them“. ~Desmond Tutu
I believe those quotes are right, one of the greatest gift from God is having a famiy and I really thank Allah for that
Special thanks to all great people who bright my day on 29 of May, 2010. I really had a blast. Thank you Allah, thank you guys…
Saya melingkari angka 7 di kalender yang terletak tepat di atas meja belajar yang terbuat dari kayu teak wood. Sebuah lingkaran merah sempurna dengan tulisan “a historical day =)”. Bukan saja karena hari ini saya berhasil menahan imbang ayah untuk pertama kalinya dalam sejarah perhelatan pingpong dengannya , tapi juga karena ini adalah hari kedatangan “Kenzou”. Oh ya biar saya perkenalkan teman baru ini, seorang kawan yang akan menemani dan menjadi saksi hidup perjalanan saya dalam beberapa dekade kedepan. Seorang pengingat, penghibur, sekaligus pembelajar. Saya kenal kenzou dari majalah yang saya beli pada awal bulan Februari 2010. Salah satu majalah remaja yang terkesan ditujukan untuk kaum hawa namun membawa pesan luar biasa untuk keselamatan lingkungan dan kaya akan ranah informasi. Majalah tersebut mengangkat setiap issue yang sangat menarik, dan ini adalah satu dari isu yang paling menarik perhatian saya sepanjang awal tahun 2010, Art and Photography Issue.
Mungkin tidak banyak yang tahu tentang English Language Testing System (IELTS), sama halnya dengan saat saya dihadapkan pada sebuah keputusan sulit untuk menjatuhkan pilihan antara mengikuti IELTS atau TOEFL IBT 2 bulan silam.
IELTS adalah sebuah ujian yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1989 untuk membantu sekolah-sekolah dan universitas untuk mengukur kemampuan bahasa inggris seseorang yang akan melakukan studi ataupun latihan bahasa inggris.
Di Indonesia sendiri tipe ujian ini belum sepopuler pesaingnya, TOEFL test, yang sudah lebih dahulu dikenal masyarakat luas dan digunakan sebagai standar umum untuk memasuki beberapa perguruan tinggi baik di dalam maupun luar negeri. Anda mungkin berfikiran sama dengan apa yang terlintas dalam benak saya saat pertama kali saya memasuki kantor I/A/L/F, sebuah lembaga penyelenggara IELTS terbesar di Indonesia, yang terletak berseberangan dengan kedutaan besar Australia di jalan Rasuna Said, Jakarta. Pertanyaan pertama yang ada saat itu adalah dimana perbedaan IELTS dengan TOEFL test? Dan pertanyaan kedua yang muncul saat itu dan sering ditanyakan orang adalah pertanyaan yang sangat sederhana namun membutuhkan jawaban yang cukup subjektif “Lebih mudah mana IELTS dengan TOEFL?”. Dua buah pertanyaan umum yang insyaAllah akan saya bahas dalam artikel berikutnya.
Layaknya sebuah skripsi yang diawali dengan background penelitian maka saya pun memiliki latar belakang kuat saat memutuskan untuk menulis artikel ini. Ini adalah tulisan yang saya buat agar Anda tidak mengalami hal yang sama dengan apa yang saya dan sahabat-sahabat saya rasakan saat kami bersama-sama berjuang dalam “camp konsentrasi” IELTS preparation dalam atmosfir kedisiplinan yang cukup membuat kami rela mematikan TV dalam 2 minggu, melewati pertandingan-pertandingan besar Liga Champion, menunda kepergian kami dengan teman-teman sekelas untuk bersenang-senang dan rela bangun lebih awal agar sampai di tempat kursus tepat waktu. Prihatin? Tentu, mengingat kami bersama-sama memperjuangkan selembar kertas yang harganya tidak pernah bisa diukur dengan uang sebesar apapun. Selembar kertas bertuliskan “INTERNATIONAL ENGLISH LANGUAGE TESTING SYSTEM” yang terhias dengan nilai tes yang kelak menjadi pembuka pintu agar kami bisa memasuki gerbang perguruan tinggi di luar negeri yang telah kami impikan.
Aku memandangi sederet angka di pojok kanan bawah komputerku, 8.05 PM, Februari 24th , 2010. Lucu rasanya mengingat kini aku masih bisa duduk dengan tenang di depan komputer yang sudah menjadi teman hidupku. Sangat kontras dengan kondisi yang harus kujalani mengingat sebentar lagi aku harus mengikuti ujian beruntun yang menjadi penentu masa depanku. Entahlah, aku ingin menulis saat ini juga, bukan esok ataupun lusa.
Banyak orang berpendapat bahwa menulis adalah salah satu cara untuk mengurangi beban yang kita pikirkan. Mungkin, dan saat ini aku yakin mereka benar. Sebuah corat ceret sederhana yang cukup untuk mengobati rasa rinduku akan dunia jurnalistik dan sekedar obat untuk merasa lebih baik
. Aku jadi teringat suatu tempat yang selalu kukunjungi 6 tahun silam. Nobody ever notice that it was the best place to escape... Dan semenjak 6 tahun silam baru hari ini aku ingin kembali ke tempat itu. Just to remind that I was there, and after I went out from that room everything will be just fine. Rumahku dulu terletak disebuah perumahan sederhana di daerah Bogor Barat. Setiap pulang sekolah aku selalu menaiki angkutan umum bewarna biru, sebuah angkutan khusus yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Rasanya bagaikan menunggu hasil akhir permainan catur Gary Kasparov dengan Karpov jika aku sudah duduk disana.Lama sekali menunggu hingga angkutan ini penuh dan mulai berjalan! Tapi tak ada pilihan lain, it was the one and only choice. Sebuah ruko terletak tidak jauh dari terminal tempat angkutan ini melakukan perberhentian pit stop sebuah istilah yang lebih mengena jika tidak ingin disebut dengan istilah “ngetem” .
. Dan karenanya aku sering berinsiatif untuk menjelajahi beberapa ruko disekitar terminal yang dekat dengan pasar itu. Ada sebuah ruko baru saat itu yang digunakan untuk fitness. Dan tidak banyak orang tahu bahwa dilantai 4 ruko itu ada sebuah studio musik. Tidak banyak yang datang. Dan aku adalah salah satu anak yang paling rajin mengunjungi studio itu. Bersama teman-teman Bandku? Idealnya, namun pada kenyataannya aku lebih sering datang seorang diri dengan dua stick drum merek Dzuljian palsu yang bahkan rawan patah setiap 200 kali pukulan ke senar drum tersebut.
.
Ada berbagai cara untuk mendapatkan beasiswa dan yang saya jelaskan dalam postingan ini hanyalah sebagian kecil dari puluhan cara yang bisa Anda lakukan untuk mendapatkan beasiswa. Semoga postingan ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang ingin menimba ilmu di belahan dunia lain hehe Let’s be a scholarship hunter from now then
!
-
Enlarge your social network
Memiliki teman yang tinggal di luar negeri atau pernah memiliki pengalaman hidup di luar negeri ternyata sangat penting. Apalagi jika mereka adalah seorang akademisi yang sedang study di sana atau syukur-syukur dosen yang bekerja pada sebuah universitas tertentu. Why is it so? Because they will give you a lot of information on how the academic system work in their university, well here are some steps that you can do… Read the rest of this entry »
Sebelumnya saya ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman yang sudah memberi bantuan dan support. Sebenarnya saya sudah lama ingin menuliskan cerita ini untuk berbagi dan juga karena adanya permintaan dari teman-teman
. Maaf karena baru bisa posting sekarang ya, guys. Oh ya, btw ga usah tegang untuk cari beasiswa, santai aj, just enjoy the process, dude.
Semoga cerita ini bisa membantu teman-teman yang juga ingin mencari ilmu sampai ke negeri Cina..heuheu…Let’s get started then!
We’re Not Alone
08.40 AM
Aku memperhatikan jam dinding di ruang tempat kami melakukan breakfast. Jarum panjang itu berada sekitar 120 derajat dari angka 12. Dua puluh menit lagi acara dimulai. Kami pun memasuki Auditorium tempat acara akbar itu diselenggarakan. Singkat cerita, kami kemudian berpisah dengan Amin karena acara sebentar lagi akan dimulai dan anak itu harus ujian dengan modal yang sama dengan modalku mengikuti acara ini , ya benar modal kami hanya modal NEKAD.
Bagi yang belum tahu Wordcamp adalah pertemuan akbar para penggemar dan pengembang WordPress, open-source blog engine yang sampai sekarang digunakan lebih dari 202 juta pengguna di dunia. Di Indonesia sendiri acara ini baru diadakan 2 kali dan ini adalah kali kedua Wordcamp diadakan di negeri yang menganut sistem repulik presidensil ini.
Suatu fenomena yang menarik dari acara ini adalah banyaknya peserta yang rela datang dari tempat yang terbilang cukup jauh. Kami kemudian mengenal Simon, seorang developer web dari negeri jiran Malaysia. Orang yang hebat pikirku. Ia mengikuti setiap detik acara dengan antusias dan banyak menanyakan hal yang berhubungan dengan DNS (Domain Name System). Mungkin suatu saat ia bisa menjadi salah satu pembicara dalam ajang serupa.



